[Video] Jadi Pemulung, Pemuda ini Mampu Kuliah Hingga S2

By | January 12, 2016

Bermula dari ketidakmampuan orang tuanya untuk menyekolahkan kakak-kakaknya, membuat Wahyudin termotivasi untuk mengubah nasib dirinya keluar dari rantai kemiskinan. Ia memutuskan untuk bekerja sebagai pemulung agar bisa bersekolah hingga meraih gelar sarjananya, Rabu (24/6/2015), Metrotvnews.

Pemulung ‘Mas Ganteng’ Wahyudin Kini Kuliah S2 di ITB

Jakarta – Masih ingat dengan Wahyudin ‘Mas Ganteng’ yang jadi pemulung untuk biaya kuliah? Dua tahun berlalu setelah detikcom bekunjung kerumahnya pada 2013 lalu, kehidupan Wahyudin pun kini telah berbeda.

Pemuda berusia 24 tahun itu tak lagi memulung dan dia tengah menyelesaikan pasca sarjananya di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) di daerah Kuningan, Jakarta. Wahyudin kuliah S2 dibiayai oleh negara melalui beasiswa Kemendikbud.

“Sekarang saya kuliah S2 di ITB, pasca sarjana saya ambil MBA program, gelarnya nambah sekarang SE goes to MBA hehehe. Insya Allah habis lebaran ini sudah mau nyusun tesis,” kata Wahyudin saat berbincang dengan detikcom, Jumat (19/6/2015).

Wahyudin lulus S1 dari kampus Uhamka pada 2013 akhir, saat itu dia banyak mendapat perhatian publik karena kisah hidupnya memulung untuk membiayai sekolah dari SD hingga kuliah.

“Saya memang sebelum lulus udah dapet beasiswa S2 duluan karena waktu itu diwawancara detik.com bulan Maret, belum lulus. Cerita saya dimuat di media dan alhamdulillah saya dapet respons yang positif dari teman-teman di luar sana,” kenang Wahyudin.

Kala itu pihak Kemendikbud datang ke rumah Wahyudin untuk memberikan beasiswa S2. Wahyudin boleh memilih S2 keluar negeri di negara manapun, namun dia memilih untuk kuliah di dalam negeri.

“Saya memang ingin sekali kuliah di luar negeri, tapi saya bertanya lagi di hati saya yang paling dalam, saya tuh belum umroh, saya tuh punya cita-cita negara pertama yang harus saya datangi adalah Arab Saudi saya pengen ke Mekah,” ucapnya.

Baca Juga :  [Video] Berburu Beasiswa Sekolah Ke Luar Negeri

Setelah berkonsultasi dengan pihak Kemendikbud akhirnya Wahyudin memutuskan kuliah di pasca sarjana ITB. Namun lagi-lagi Wahyudin selalu memiliki kisah menarik dalam setiap perjuangannya mencapai cita-cita. Misalnya saja cerita dia ketika menghadapi ujian agar bisa diterima di ITB.

Wahyudin harus mengikuti tes matematika, Bahasa Inggris, TOEFL dan wawancara yang semuanya dalam Bahasa Inggris.

“Perjuangannya itu dahsyat banget, TOEFL-nya harus 475 kalau nggak salah. Saya belum pernah tes karena orang tua sederhana nggak pernah kursus Bahasa Inggris sama sekali tiba-tiba mau S2 pelajarannya full english,” ujar Wahyudin.

Akhirnya Wahyudin belajar Bahasa Inggris di manapun secara berulang-ulang. Wahyudin ‘berguru’ dengan temannya Rizki Yusuf agar bisa lulus tes TOEFL. Perjuangan dia pun berhasil, namun dia masih harus melalui tes wawancara dalam Bahasa Inggris.

“Waktu saya itu sebulan setelah pengumuman lulus. Akhirnya saya jalan ke Jatinegara, nyeker, karena pemulung dikenalnya nyeker kan. Ke Jatinegara cuma mau ketemu bule buat ngomong Inggris,” ucapnya.

Dia lalu meminta tour guide yang sedang memandu bule untuk membantunya. “Saya ketemu bule lagi di tour guide-in terus saya bilang sama mba tour guidenya kalau saya mau kuliah, saya pemulung, saya enggak punya uang buat kursus jadi saya mau tour guide biar praktek langsung buat tes wawancara. Sambil becek-becek nyeker saya keliling dan jelasin tentang Jatinegara,” kenang dia.

Belum PD hanya ngobrol dengan satu bule, Wahyudin lalu melanjutkan mencari bule lain untuk belajar Bahasa Inggris gratis. Dia lalu pergi ke Pondok Indah Mal (PIM).

“Saya pergi ke PIM sama kakak angkat saya, mereka kursus saya ikut nemenin doang. Mereka lagi belajar saya berdiri liatin, cuma pengen ketemu bule ngobrol. Saya ngobrol aja sama bulenya tanya jawab,” ucap pemuda yang pernah jadi gembala kambing ini.

Baca Juga :  [Video] Beasiswa Pendidikan di Indonesia

Masih merasa pelajarannya belum cukup, Wahyudin lalu memutuskan pergi bersama kakak angkatnya ke Mal Taman Anggrek untuk main Ice Skating. Kakak angkat Wahyudin memang orang berada dan orang tua angkat Wahyudin juga yang membantu biaya kuliahnya waktu S1 lalu.

“Masih ada waktu satu minggu lagi saya ikut kakak angkat saya main ice skating, saya pikir kan di sana banyak bule. Ngobrol 2 jam sambil main ice skating. Saya tanya Bahasa Inggris saya gimana kata Bule itu saya udah bisa komunikasi,” papar Wahyudin.

“Tiga bule itu perjuangan saya Jatinegara, PIM dan Mal Taman Anggrek. Setelah PD baru saya tes akhirnya lulus,” katanya sambil tertawa.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *