Saat Kuliah, Harus Kah Belajar Keras Seperti di Sekolah?

By | January 25, 2017

Apa yang umumnya kita pikirkan saat duduk di bangku sekolah? Apa yang orang tua kita harapkan? Harus mendapat nilai bagus? Harus ranking? Ada juga yang menganggap tidak harus, tapi mereka akan lebih bangga jika nilai kita bagus bukan?

Sebagian dari kita giat sekali mengejar peringkat di kelas. Karena itu, ada yang mengurangi waktu santai dan bermain dengan belajar giat, pulang sekolah mengerjakan PR. Ada juga yang gigih menghapal. Lalu, bagaimana dunia belajar saat kuliah? Apa harus sekeras itu?

Perlu Belajar Keras Saat Kuliah?

Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Sesuai dengan apa tujuan kamu kuliah. Akan lebih baik kalau kamu sudah tahu mau jadi apa setelah lulus nanti.

Kenapa? Jika kamu tahu mau jadi apa nanti, kamu akan tahu harus sekeras apa belajar saat kuliah. Apakah kamu harus menguasai semua teori? Apakah kamu harus menguasai rumus-rumus? Apakah kamu harus menguasai semua software?

Atau, kamu hanya perlu tahu alurnya saja, alur analisanya saja, alur kerjanya saja, cara kerjanya saja, teori-teori terpenting saja, dan lainnya. Kalau yang ini, biasanya kamu tinggal perlu mendalaminya lewat praktik atau pengalaman kerja baik sebelum atau sesudah lulus. Sementara waktu sisanya bisa kamu pakai menambah skill yang kamu perlukan untuk karir yang kamu cita-citakan, di samping masuk kelas dan mengerjakan tugas.

Dalam setiap jurusan juga akan ada spesifikasinya. Ada yang nanti fokus ke profesional, ada yang di penelitian, ada yang di bisnis, ada yang di lapangan, ada yang di manajemen, ada yang di tampuk kepemimpinan, de el el. Ada juga yang di sektor lain tapi tidak berhubungan langsung dengan jurusan yang kamu ambil, atau tidak berhubungan sama sekali.

Baca Juga :  BEASISWA PENUH KULIAH S1, S2, PHD DI LUAR NEGERI 2016

Dunia Belajar di Kuliah

Kuliah itu sibuk nggak sih? Saya akan selalu jawab: tergantung hehehe. Tergantung jurusan kamu, tergantung jenis program (paruh waktu atau penuh waktu), dan tergantung cara kamu memandang dunia perkuliahan itu.

Setiap jurusan punya ‘cara asah’ yang berbeda. Itu tidak cuma mengatur penguasaan teoritis dan praktik kamu tetapi juga mental, pola pikir, sampai etika.

Setiap mahasiswa pasti wajib hadir di kelas dan mengerjakan tugas. Ada juga yang tambah sibuk dengan kegiatan di luar kampus baik berorganisasi, komunitas, hobi, sampai bisnis.

Saya ingat nasihat dosen Pembimbing Akademik (nama sengaja tidak disebutkan), kalimatnya kurang lebih begini:

“Manfaatkan waktu saat berada di kelas karena di luar ini kamu akan sibuk dengan hal lain (seperti tugas), sehingga beban saat ujian tidak terlalu berat.”

Betul juga. Kalau sudah keluar kelas pikiran kita dialihkan oleh yang lain. Mendekati ujian, terlalu banyak hal yang harus kita pelajari. Jadi, berkonsentrasi lah saat kamu di kelas sehingga kamu paham materinya. Tinggal mengulang sedikit saja nanti mendekati ujian.

IPK Penting Nggak Sih?

Mmmmm. Saya memandang itu penting. Setidaknya memenuhi standar untuk segala kemungkinan. Kita tidak pernah tahu nasib akan membawa kita ke mana. Mungkin kita ingin pekerjaan yang tidak terlalu mementingkan IPK tapi kita tidak tahu bisa bertahan terus di situ atau harus banting setir.

Coba cek berapa IPK umum yang diiungin perusahaan baik kecil maupun besar. Cek juga berapa IPK minimal untuk jadi PNS atau pegawai honorer atau tenaga kontrak. Cek juga berapa IPK umum untuk kuliah ke luar negeri. Kalau beasiswa luar negeri sih biasanya minimal 3,00.

Baca Juga :  Ciri Orang yang Bisa Mendapat Beasiswa Luar Negeri

Ada dunia atau aspek kerja yang mementingkan IPK ada juga yang lebih melihat pada kemampuan lainnya (softskill). Rupanya begitu lah Yang Kuasa mengatur rejeki manusia ya.

Setidaknya, ada rasa aman jika IPK kita di atas 2,75 bagus lagi kalau bisa di atas 3,00. Bagaimana dengan IPK 3,50 ke atas? Pertimbangkan, agar mencapai angka itu apa perlu waktu yang terlalu banyak di perkuliahan sementara kamu perlu menggali yang lainnya juga. Ada orang yang harus bekerja keras menyeimbangkan pencapaian akademik dan non-akademik, ada juga orang yang mampu mencapai puncak keduanya.

IPK Penting untuk Beasiswa?

Jawabannya, tergantung lagi hehehe. Beasiswa jenis apa yang kamu incar. Biasanya, jurusan yang kamu incar jenis beasiswanya apa saja? Ada yang berdasarkan prestasi akademik, ada yang dinilai dari kepemimpinan, kegiatan sosial, aktivisme, prestasi olahraga, kemampuan ekonomi, dan lain-lain. Ada juga yang campuran dari semua itu.

Pada umumnya, ada standar IPK meski dipadu dengan kriteria non-akademik lainnya. But, banyak jalan menuju Roma, alias sumber bantuan dana tidak cuma beasiswa. Ada lomba, ada pinjaman pendidikan, ada kuliah sambil kerja, de el el.

Peringkat di Kuliah Itu Penting?

Jawabannya tergantung lagi hahaha. Apa tujuan kamu setelah lulus sarjana? Saya jarang melihat lowongan kerja yang ada syarat ranking di kuliah. Apalagi kalau kita mau menjalankan usaha sendiri tentu peringkat jadi soal nomor sekian. Kalau syarat beasiswa luar negeri sih ada, tapi tidak semua. Misalnya harus masuk Top 10%.

But, segala pencapaian di masa kuliah itu akan jadi momen berharga dan motivasi keturunan kita. Misal kita bisa dapat penghargaan akademik tertentu, jadi bisa menambah nilai plus di CV dan memudahkan jalan untuk lanjut studi.

Baca Juga :  Tips Lolos Beasiswa StuNed untuk Kuliah ke Belanda

Well, harus belajar keras saat kuliah nanti? Saya terbuka untuk sharing.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *