Jatuh Bangun Rina Herani Memperoleh Fellowship

By | October 4, 2015

Perjuangan yang tidak mudah membuktikan penerima beasiswa adalah orang-orang yang pantas menerimanya. Kerja keras membangun prestasi, menyiapkan dokumen, hingga membangun jaringan mendapat hasil setimpal dengan dana pendidikan.

Rupanya, mengajukan beasiswa tidak semudah membeli permen di warung. Ini bahkan terjadi pada mereka yang menurut pandangan orang awam, sangat istimewa. Hal tersebut menunjukkan persaingan memperoleh beasiswa memang berat, apalagi di program internasional.

Jalan berliku juga dialami Rina Herani, alumni Universtas Gadjah Mada (UGM). Ia berkali-kali ditolak saat melamar berbagai beasiswa. Ia juga bahkan pernah menolak. Namun, akhirnya berhasil juga di tengah kehamilan anak pertamanya. Berikut cerita jatuh bangun Rina Herani memperoleh fellowship yang kami lansir dari laman pribadinya, rinaherani.blogspot.co.id.

Tentang Rina Herani

Dosen Jurusan Manajemen tersebut lulus dari UGM pada tahun 2004. Ia kemudian bekerja selama dua tahun di perusahaan otomotif terbesar Indonesia, sebagai business development analyst. Tahun 2005, Rina Herani diterima jadi pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UGM, dengan latar pendidikannya yang masih S1.

Pada saat yang sama, perempuan tersebut juga memperoleh beasiswa di University of Agder, Norwegia, untuk gelar Master. Pada tahun 2008, ia pulang ke Indonesia dan mulai mengajar.

Gagal Lagi, Lagi, dan Lagi

Setelah mengajar sekitar lima bulan, Rina Herani ingin kembali studi. Tantangannya, ia sedang hamil anak pertama. Figur pantang menyerah tersebut mengaku berkali-kali melamar dan sebanyak itu pula gagal.

Memperbaiki dan Mencoba Lagi

Ditolak terus-menerus tidak membuat beliau mundur. Ia pun mencermati apa yang kurang dari aplikasi dan memperbaikinya. Beliau merevisi berbagai dokumen seperti proposal riset, motivation letter, curriculum vitae, dan lain-lain.

Sekali Ini Menolak

Baca Juga :  Beasiswa Penuh S2 di Belgia Ilmu Transportasi dari VLIRUOS Deadline 1 Maret 2018

Alhasil, perjuangan beliau sukses juga. Namun, sekali ini ia harus menolak. Saat itu, Rina Herani sudah lolos screening beasiswa di Jerman, lalu mengundurkan diri. Ini karena nominal yang diberikan ternyata tidak cukup untuk hidup bersama anaknya nanti.

Saat Sudah Pasrah, Dapat Dua Beasiswa

Memang betul kata orang, perjuangan seringkali berakhir indah saat sudah pasrah. Kali terakhir, Rina Herani melamar PhD fellowship di Norwegian School of Economics and Bussiness Administration (NHH), Norwegia. Selain itu, beliau juga mengajukan aplikasi ke BI (Business School), Oslo, Norwegia.

Kehamilannya sudah mendekati hari perkiraan lahir. Beliau sempat berpikir, jikalau kesempatan ini tidak berhasil, ia akan fokus pada buah hatinya saja. Sebulan kemudian, tahu-tahu ada panggilan wawancara via telepon dari NHH.

Sebulannya lagi, kabar baik kembali menghampiri. Tidak hanya diterima NHH, Rina Herani juga dipanggil wawancara oleh BI Oslo. Akhirnya, beliau mengundurkan diri dari BI Oslo dan mengirim kontrak kerja untuk jangka 4 tahun ke NHH.

Pertimbangan

Mengapa NHH, bukan BI Oslo? Pertimbangan Rena Herani bisa jadi pijakan pelamar lainnya. Pertama, NHH merupakan business school terbaik dan tertua di Norwegia. Banyak professor alumni kampus tersebut yang mengajar di institusi lainnya, termasuk BI Oslo.

Kedua, penelitian beliau lebih pas di NHH. Ketiga, dana yang diberikan sedikit lebih banyak daripada beasiswa BI Oslo. Rena Herani pun mempertimbangkan kenyamanan hidup di kedua kota (Bergen dan Oslo).

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *