Inspiratif! Melawan Keterbatasan Fisik untuk Kuliah di Luar Negeri

By | October 13, 2015

Kuliah di luar negeri sering kali diisi oleh orang-orang yang brilian, bukan hanya urusan otak tetapi juga mental. Umumnya, mereka memiliki tubuh yang sempurna. Muhammad Zulfikar Rakhmat berani bilang, disabilitas bukan alasan gagal dalam meraih pendidikan tinggi. Ia sudah membuktikan, kekurangan dirinya dapat menjadi kekuatannya.

Kami lansir dari laman Indonesia Mengglobal, berikut kisah inspiratif! Melawan keterbatasan fisik untuk kuliah di luar negeri.

Siapa Zulfikar?

Pria hebat ini lahir di Jawa Tengah, tepatnya Kota Pati. Sejak tingkat dasar hingga SMP, ia mengenyam pendidikan di sekolah umum. Jenjang SMA, ia habiskan di Qatar.

Di negera itu pula, Zulfikar menjadi lulusan terbaik dan tercepat Universitas Qatar. Tidak tanggung-tanggung, sosok inspiratif ini menapat penghargaan langsung dari Raja Qatar.

Gelar Master ia raih di Eropa, yaitu University of Manchester, Inggris. Inilah keberhasilan Zulfikar dalam melawan keterbatasan fisik untuk kuliah di luar negeri.

Bullying dan Keterbatasan Zulfikar

Zulfikar lahir dengan gangguan pada saraf motoriknya. Ia baru bisa berdiri pada umur 4 tahun berjalan pada umur 7 tahun. Dokter pun memvonis hidupnya takkan lama.

Orang tuanya gigih untuk memasukkan Zulfikar di sekolah umum. Mereka memandang, Sekolah Luar Biasa bisa saja semakin membatasi anak dengan disabilitas.

Setelah melewati berbagai tes masuk, ia berhasil juga mengenyam pendidikan bersama anak yang ‘normal’. Namun, ini tidak serta merta jadi kebahagiaan buat Zulfikar.

Hari-hari ia lalui dengan bullying. Pelecehan, didorong hingga luka parah, menangis saat pulang, jadi kenangan yang begitu membekas bagi Zulfikar. Sering ia hanya bisa menatap teman-temannya bermain di luar kelas. Untuk menghindari bullying, ia pulang sekolah lebih cepat. Cita-citanya ingin jadi guru pun ditertawakan.

Baca Juga :  Trik Mengumpulkan Uang untuk Buku Kuliah

Tapi, semua itu berakhir saat ahli Politik Islam dan Politik Timur Tengah itu, hijrah ke Qatar. Ia berhasil menaklukkan perbedaan bahasa dan lingkungan. Studi di Eropa semakin lancar dengan inklusivitas dan kesadaran yang tinggi dari masyarakatnya terhadap difabel.

Orang Tua Hebat

Di balik sukses Zulfikar, ada orang tua yang hebat, bahkan paling hebat. Merekalah yang pontang-panting ke berbagai lembaga dan instansi pemerintah agar Zulfikar dapat duduk di sekolah umum.

“Jangan biarkan keterbatasan mengalahkanmu”. Itulah motivasi yang selalu ditanamkan orang tuanya. Ia pun memegang teguh nasihat tersebut.

Berprestasi Seperti Orang ‘Normal’

Master International Politics itu selalu menanamkan dalam dirinya, bahwa ia juga bisa meraih apa yang siswa ‘normal’ lainnya dapatkan. Sosok ini pun menang lomba pidato dan lulus dengan nilai memuaskan.

Saat kuliah di luar negeri, tulisan-tulisannya banyak dimuat media lokal maupun internasional. Ia juga banyak diundang sebagai pembicara. Zulfikar pun diberi kesempatan berangkat umroh.

Sahabat Sejati

Qatar juga mengajarkan Zulfikar tentang arti persahabatan. Dari sini, ia mendapat kawan sejati untuk melawan kelemahannya. Sahabat yang tulus menumbuhkan percaya dirinya.

Pesan Zulfikar

Zulfikar telah membuktikan keterbatasan fisik bukan halangan menempuh pendidikan tinggi, termasuk kuliah di luar negeri. Ia merasa, ceritanya masih belum istimewa karena masih banyak perjuangan difabel yang lebih hebat di luar sana. “Percayalah kawan, tidak ada yang mampu mengalahkan kekuatan doa dari kerja keras. Terus berjuang!”, ungkap Zulfikar dalam tulisannya.


One thought on “Inspiratif! Melawan Keterbatasan Fisik untuk Kuliah di Luar Negeri

  1. Pingback: Inspirasi Beasiswa: PRT Filipina & Indonesia Dapat Beasiswa | IDBeasiswa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *