Dokumen yang Diminta Mendadak Saat Wawancara Beasiswa

By | December 3, 2015

Wawancara beasiswa nampaknya perlu disipakan dengan totalitas. Ngeri juga membaca pengalaman Mahening Citra Vidya di laman PPI Belanda. Saat wawancara Beasiswa Unggulan Dikti 2012, ada dokumen di luar syarat kelengkapan yang ditanyakan pewawancara. Alumni University of Twente itu pun kelabakan memenuhinya dalam 2,5 jam.

Latihan Wawancara Beasiswa yang Penuh Totalitas

Saya menyebutnya totalitas karena dibanding kisah lain yang pernah saya baca, sosok ini melibatkan dosen, saudara, hingga teman yang kuliah di luar negeri dalam latihannya. Selain itu, ia juga latihan bicara sendiri (monolog) dengan Bahasa Inggris. Simulasi jarak jauh pun ia tempuh via skype.

‘Pembantaian’ dalam Latihan Wawancara Beasiswa

Beruntung, Master di bidang Mechanical Engineering ini seperti diasah mental oleh kedua saudaranya. Saat latihan wawancara beasiswa, mereka melempar pertanyaan cepat tak terduga. Setiap jawaban Citra ‘dibantai’ habis. Ternyata ini ada manfaatnya di hari H.

Pewawancara Suka Menyela dan Jawaban Lancar

Tepat, perempuan tersebut mendapati pewawancara yang kerap menyela kalimatnya. Dalam menjawab, ia menyarankan untuk bicara lambat tapi lancar daripada cepat tapi terpatah-patah. Karena sudah latihan ‘perang’, ia bisa menjawab dengan penuh percaya diri.

Untung Sudah Buat Rencana Keuangan

Selain pertanyaan tentang mengapa pilih Belanda, Univesity of Twente, riset, dan kemampuan bahasa, ia juga ditanya, “Living in Europe is expensive, isn’t it?”. Citra pun tidak terlalu kelimpungan karena sudah membuat rencana keuangan sebelumnya.

Ini Dia, Mendadak Diminta Proof of Advisorhip

Nampaknya wawancara beasiswa itu berjalan lancar sampai ia diminta menunjukkan dokumen asli. Namun, pewawancara tersebut menanyakan proof of advisorhsip (keterangan kesediaan pembimbing) yang tidak ada dalam daftar syarat kelengkapan. Di universitas pilihannya pun tidak ada syarat tersebut untuk gelar master.

Baca Juga :  Beasiswa Studi S2 di Inggris

“I have contacted a professor in Twente by email, is it sufficient? But I do not bring it right now, so may I print it
“Sure. Bring it here before 12 o’clock. I’ll be here.”

Dalam waktu 2,5 jam, Citra harus membawa dokumen yang diminta. Sayang, ia tidak bisa mengakses internet, tidak bawa laptop, dan tidak ada jasa print di sekitar tempat wawancara. Ia sempat mengontak mahasiswa Twente namun prosedur nampaknya tidak memungkinkan karena di Belanda baru jam 5 subuh.

Ia pun pulang ke kos dan mencetak email percakapannya dengan sang professor dan kembali tepat waktu. Namun, pewawancara tetap meminta surat pernyataan dari professor yang bersedia membimbing tesisnya. Setelah berani bertanya, akhirnya beliau setuju surat tersebut disusulkan besoknya.

Pelajaran Moral dalam Wawancara Beasiswa

Hal serupa bisa saja terjadi dalam sebuah wawancara beasiswa. Menurut Citra, bisa jadi, tindakan pewawancara yang meminta dokumen mendadak itu untuk melihat keseriusan peserta dalam memenuhi batas waktu.

Tips Memperoleh Letter of Advisorship

Pihak universitas bisa saja menolak memberikan surat tersebut karena di luar ketentuan. Namun, Citra dapat memperolehnya dengan langsung meminta pada calon professor pembimbing. Dengan begitu, ia bisa memenuhi janji pada pewawancara kemarin dan menerima Beasiswa Unggulan Dikti 2012.

Bonus Pertanyaan Wawancara Beasiswa

Berikut beberapa pertanyaan yang dibagikan Citra.

  • “Why do you choose Netherlands?”
  • “Are you sure you can live there?”
  • “Can you speak Dutch? No??”, “Then how can you be sure that you can finish your master programme there?”
  • “And now you choose a specialization that is not related at all with your previous bachelor project??”
  • “Let’s see your research proposal.. From all of these references, is there any publication written by a Dutch man?”
  • “Then why do you choose Netherlands?”
  • “But why do you choose University of Twente?”, “Oh, I do know a better university for mechanical engineering, in Germany.”
  • “This university is not the best one in Europe. Why don’t you aim higher?”
  • “Living in Europe is expensive, isn’t it?”
Baca Juga :  Beasiswa Penuh S2 dan S3 dari University of New England Deadline 16 Juni 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *